Dengan kekayaan alamnya, Gunung Kidul mampu mendatangkan sebanyak lebih dari 2.5 juta wisatawan setiap tahunnya. Deretan pantai yang indah menjadi daya tarik utama bagi para wisatawan, hal itu juga mengundang para investor untuk berinvestasi di kawasan pantai-pantai Gunung Kidul.

Hadirnya peran investor terlihat dari beberapa fasilitas wisata yang terdapat di beberapa pantai yang terdapat di Gunung Kidul. Salah satunya adalah hadirnya bangunan mewah di bebatuan karst di kawasan pantai seruni. Pemerintah setempat melarang dilanjutkannya pembangunan resort sebelum urusan perizinan diselesaikan oleh pihak yang bertanggung jawab.

Pantai Seruni Gunung Kidul
Pantai Seruni Gunung Kidul

“semua lahan pantai dibeli, tembok-tembok tinggi dan portal dibangun, sehingga menyebabkan warga sekitar sulit untuk masuk”, ujar Adnan Pambudi selaku Aktivis Lingkungan.

Pembangunan resort tersebut membuat warga sekitar khawatir akan terjadi kerusakan  pada wilayah lindung, Kawasan Bentang Alam Karst Gunung Sewu.

Kawasan  tersebut merupakan bagian dari Geopark Gunung Sewu yang harus dilindungi oleh semua pihak, termasuk pemerintah Gunung Kidul. Tetapi menurut Adnan pemerintah Gunung Kidul terkesan tak peduli.

Baca juga: Wisata Edukasi Omah Salak

Kejadian serupa tidak hanya terjadi di kawasan pantai seruni, tapi juga di kawasan pantai Ngrawe yang berada di Desa Kemadang, Kecamatan Tanjungsari. Walau belum terlihat adanya pembangunan resort, tetapi semua akses menuju pantai sudah diberi tanda dan pagar.

“Tanah yang sebelumnya adalah milik warga sekitar sudah dibeli oleh investor asing dengan harga milyaran”, ujar Mardiyono yang merupakan warga sekitar Pantai Ngrawe.

Dengan adanya pembangunan resort tersebut juga turut mendongkrak harga tanah di kawasan Pantai Ngrawe. Harga tanah yang awalnya hanya ratusan ribu per meter persegi, kini harganya sudah mencapai jutaan rupiah.

Kondisi serupa juga terjadi di kawasan Pantai Watu Kodok, para investor mengklaim telah mendapatkan  kekuasaan untuk mengelola Sultan Ground.

Baca juga: Mengunjungi Ketingan, Desa Wisata Fauna.

Pembangunan itu pun akhirnya menimbulkan masalah baru dengan warga sekitar, warga sekitar enggan untuk meninggalkan kawasan pantai watu kodok. Menurut mereka, mereka lebih dahulu berada di sana dan lebih berhak untuk mengelolanya.

Melihat kondisi yang sekarang terjadi Pemerintah Kabupaten Gunung Kidul mengaku akan melakukan pengawasan terhadap privatisasi kawasan pantai ditengah maraknya penjualan lahan dikarenakan harganya yang sangat menggiurkan.

WhatsApp chat